Sekilas Pandang

Assalamu ‘alaikum

Salam,

Di lahirkan dari keluarga kecil yang sederhana dan penuh kasih sayang sudah membuat hidup saya terasa berharga.  Keluarga bagi saya adalah sesuatu yang paling berharga dan tidak dapat tergantikan oleh apapun. Seburuk apapun keadaannya, keluarga tetap menjadi harta yang paling berharga. Lahir di lembang Bandung 1 Juni 1989 menjadi cerita tersendiri dalam hidup saya karena saya menjadi the youngest people di dalam keluarga. Karena Ayah seorang PNS, maka terpaksa keluarga harus pindah domisili ke Jakarta walaupun saya belum lebih dari satu tahun merasakan hidup di tanah lembang. Sebagai abdi negara, harus siap ditempatkan dan ditugaskan dimana pun kita berada. Hanya saja keluarga saya melakukan “urbanisasi” untuk ditugaskan kembali ke kantor pusat di Departemen Pertanian Jakarta. Masa sekarang ini entah apa yang menjadi daya tarik beribu-ribu orang mengikuti seleksi tes CPNS. Padahal dulu peminat untuk menjadi seorang PNS tidak sebanyak sekarang. Tapi satu yang sering saya dengar dari orang-orang yaitu “kalau sudah jadi PNS hidupnya sudah tenang dan terjamin”.

Pindah ke Jakarta saya sempat merasakan tinggal di lingkungan keluarga besar Angkatan Udara. Mempunyai seorang kakek yang merupakan Perwira Menengah AU menjadi alasan keluarga dan saya pernah merasakan tinggal di Halim Perdana Kusuma. Pernah merasakan masa kecil disini membuat saya pernah bercita-cita menjadi tentara. Tapi entah kenapa ketika saya sudah besar tidak pernah terlintas dipikiran saya sedikitpun untuk menjadi seorang tentara.

Pernah bersekolah di SD Negeri disuatu “desa” di Bekasi dan kemudian lulus dari SMP yang tidak favorit di Bekasi tidak menghalangi saya untuk melanjutkan pendidikan di SMA N 5 Bekasi yang merupakan salah satu SMA favorit di Kota Bekasi. Malahan di SMA ini saya terpilih untuk masuk di kelas RSBI bersama dengan tiga puluh teman lain (dulu sih disebutnya kelas SSI alias kelas yang menjadi “kelinci percobaan” kelas RSBI karena kelas ini dulu pertama kalinya ada untuk program ini). Namun sekarang kelas RSBI ini menjadi kotroversial, ada yang mendukung dan ada juga yang tidak setuju dengan adanya sekolah RSBI. Entah apa alasannya bagi yang tidak setuju dengan adanya sekolah RSBI ini, tapi menurut saya substansinya bukan pada soal untuk tidak setuju dengan adanya sekolah RSBI ini dan kemudian menuntut untuk dihapuskannya sekolah RSBI dengan alasan ketidakadilan. Jika ketidakadilan yang menjadi dasar alasan untuk tidak setuju dengan adanya RSBI menurut saya kenapa harus menuntut untuk dihapuskan?? Hal itu cukup diperbaiki dengan melalukan perbaikan pada sistem dan mekanismenya saja.

Selepas SMA saya berhasil melanjutkan pendidikan di kampus peruangan yaitu Politeknik Negeri Jakarta (biasanya sih yang pada suka gengsi nyebutnya Poltek UI, karena dulu Poltek masih gabung dengan UI). Masuk ke kampus ini tanpa harus melewati tes tulis karena alhamdulillah diterima di kampus ini lewat jalur PMDK. Jurusan yang saya pilih ialah jurusan teknik elektro dengan program studi teknik telekomunikasi. Jurusan yang syarat dengan teknologi-teknologi “gaib”-nya.

Di kampus ini saya belajar banyak hal. Belajar arti kehidupan, belajar arti perbedaan, belajar lebih menghargai hidup ini, dan belajar hal-hal lainnya. Kenangan yang mungkin tidak akan perna terlupakan, banyak moment-moment yang wajib untuk selalu diingat selalu. Satu yang selalu saya ingat “kita belajar sebuah proses untuk mendapatkan hasil yang baik”.

Saya lulus dengan predikat cum laude. Ketika saya punya mimpi untuk lulus dengan nilai tertinggi di kelas,  alhamdulillah Allah punya rencana lain yang lebih indah dari itu semua. Saya berhasil lulus dengan predikat cum laude dan dengan nilai tertinggi se-jurusan teknik Elektro pada angkatan saya. Dan bukan itu saja, pada saat wisuda saya terpilih untuk membacakan janji wisudawan diantara ratusan mahasiswa lainnya. Dan saya berhasil membacakannya dengan lancar di depan ratusan mahasiswa dan para orang tua mahasiswa lainnya. Ini merupakan kado terindah yang mungkin pernah saya persembahkan untuk ke dua orang tua saya yang menyaksikan saya dari atas tribun Balairung UI tempat dilaksanakannya wisuda. Kebanggan yang mungkin bisa saya berikan untuk kedua orang tua saya. Dan saya akan terus berusaha memberikan kado-kado terindah lainnya untuk kedua orang tua. Sungguh, rencana Allah itu lebih indah, subhanallah.

Saat ini saya sedang mengerjar mimpi-mimpi saya lainnya dengan melanjutkan study di fakultas teknik Universitas Indonesia program ekstensi S1 sambil bekerja di salah satu stasiun televisi swasta nasional di jakarta.

Jangan pernah takut untuk bermimpi kawan…